Rupiah Akhirnya Bangkit Setelah Tekanan Berhari-hari
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya menunjukkan tanda pemulihan pada perdagangan Rabu pagi setelah beberapa hari berturut-turut berada dalam tekanan. Data pasar menunjukkan penguatan tipis, namun cukup memberi sinyal bahwa pasar mulai mencari keseimbangan baru di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 09.38 WIB rupiah berada di level Rp16.868 per USD, menguat sekitar 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.877 per USD. Sementara itu, berdasarkan Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.870 per USD pada waktu yang relatif sama.
Meski penguatannya masih terbatas, pergerakan ini menjadi penting karena terjadi di tengah sentimen eksternal yang cukup berat, terutama dari Amerika Serikat dan Timur Tengah.
Proyeksi Analis: Rupiah Masih Fluktuatif
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah pagi ini belum sepenuhnya mencerminkan pembalikan tren. Menurutnya, rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang hari.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.870 hingga Rp16.900 per USD,” jelas Ibrahim.
Perkiraan ini menunjukkan bahwa pasar masih bersikap hati-hati. Investor cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan global sebelum mengambil posisi yang lebih agresif terhadap aset berdenominasi rupiah.
Sentimen Global: The Fed Jadi Sorotan
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat, yakni penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve.
Ketegangan ini melibatkan Federal Reserve dan ketuanya, Jerome Powell. Powell mengungkapkan bahwa jaksa federal tengah menyelidiki proyek renovasi gedung kantor pusat The Fed, yang kemudian berkembang menjadi isu politik.
Menurut Ibrahim, tekanan tersebut telah mengguncang kepercayaan pasar global terhadap independensi bank sentral AS.
“Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS,” ujarnya.
Powell sendiri menegaskan bahwa langkah Departemen Kehakiman AS (DOJ) bermotif politik dan merupakan bentuk campur tangan terhadap independensi bank sentral. Ketidakpastian ini membuat investor global bersikap lebih defensif, termasuk dengan menyesuaikan portofolio mata uang mereka.
Efek Domino ke Pasar Valuta Asing
Ketika independensi bank sentral terbesar di dunia dipertanyakan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dolar AS, tetapi juga oleh mata uang negara berkembang seperti rupiah. Dolar AS yang biasanya menjadi aset aman (safe haven) justru mengalami tekanan psikologis, memberi ruang bagi mata uang lain untuk bernapas, meski hanya sementara.
Namun, ruang penguatan tersebut masih terbatas karena investor global belum sepenuhnya keluar dari aset dolar. Mereka masih menimbang apakah gejolak ini bersifat sementara atau akan berlanjut dalam jangka menengah.
Iran dan Ketegangan Geopolitik Tambah Tekanan Pasar
Selain isu The Fed, pasar global juga dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran tengah menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan laporan korban jiwa akibat bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras. Ia memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Tak hanya itu, Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25 persen terhadap negara mana pun yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Langkah ini bertujuan untuk semakin mengisolasi Teheran secara ekonomi.
Rencana tersebut menambah ketidakpastian global dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing.
Dampak Geopolitik terhadap Rupiah
Bagi rupiah, ketegangan geopolitik global memiliki dua sisi. Di satu sisi, melemahnya dolar AS akibat isu domestik di AS bisa memberi ruang penguatan. Namun di sisi lain, meningkatnya risiko global cenderung mendorong investor kembali ke aset aman, yang dalam jangka menengah justru dapat menekan mata uang negara berkembang.
Inilah sebabnya penguatan rupiah pagi ini dinilai masih rapuh dan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dalam beberapa hari ke depan.
Faktor Domestik Masih Jadi Penopang
Di tengah tekanan eksternal, faktor domestik Indonesia relatif stabil. Inflasi yang terjaga, cadangan devisa yang memadai, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi penopang utama rupiah.
Meski demikian, pasar tetap menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia, terutama jika volatilitas global meningkat. Intervensi di pasar valas dan kebijakan stabilisasi tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga rupiah agar tidak bergerak terlalu liar.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Dalam jangka pendek, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pelaku pasar dan masyarakat:
- Perkembangan penyelidikan terhadap Jerome Powell dan respons politik di AS.
- Sikap The Fed terkait kebijakan suku bunga di tengah tekanan politik.
- Ketegangan Iran–AS, termasuk kemungkinan sanksi atau aksi militer.
- Respons Bank Indonesia jika volatilitas rupiah meningkat.
Faktor-faktor ini akan sangat menentukan apakah penguatan rupiah bisa berlanjut atau hanya bersifat sementara.
Kesimpulan: Penguatan Tipis, Tantangan Masih Besar
Penguatan rupiah pada Rabu pagi ini menjadi kabar positif setelah tekanan berhari-hari. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas dan dibayangi risiko global yang besar. Gejolak politik di AS, isu independensi The Fed, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat rupiah berpotensi kembali bergerak fluktuatif.
Bagi pelaku pasar, kehati-hatian tetap menjadi kunci. Sementara bagi masyarakat umum, pergerakan rupiah ini menjadi pengingat bahwa nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global yang kompleks dan saling terkait.
Baca Juga : Ribuan Rumah Terendam Banjir Warga Mengungsi ke Masjid Utara!
Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli

