Panitia Lokal Matangkan Persiapan Napak Tilas Dzurruyah NU
Panitia lokal di Kabupaten Jombang menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut ribuan peserta kegiatan Napak Tilas Dzurruyah pendiri Nahdlatul Ulama. Agenda ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir NU secara kalender hijriyah dan dipusatkan di kawasan Tebuireng, Jombang.
Kegiatan Napak Tilas ini dinilai memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam bagi warga NU. Selain menjadi momentum refleksi atas perjuangan para pendiri NU, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat ikatan kebangsaan, keulamaan, serta semangat khidmah di tengah masyarakat.
Bukan Agenda Resmi, Namun Didukung Penuh PCNU Jombang
Wakil Ketua PCNU Jombang sekaligus Ketua Koordinator Napak Tilas wilayah Jombang, KH Haris Munawir, menjelaskan bahwa kegiatan Napak Tilas Dzurruyah ini bukan merupakan agenda resmi Nahdlatul Ulama di tingkat pusat, wilayah, maupun cabang.
Meski demikian, PCNU Jombang tetap diminta untuk membantu proses persiapan dan penyambutan peserta yang datang dari berbagai daerah. Menurutnya, keterlibatan PCNU Jombang lebih bersifat fasilitatif guna memastikan kegiatan berjalan tertib, aman, dan khidmat.
Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kultural PCNU Jombang sebagai tuan rumah, mengingat Tebuireng memiliki posisi penting dalam sejarah NU.
Ribuan Peserta Diperkirakan Hadir di Jombang
Panitia mencatat sekitar seribu peserta terdaftar secara resmi akan mengikuti Napak Tilas Dzurruyah pendiri NU. Para peserta tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk dari luar Pulau Jawa seperti Kalimantan Timur.
Selain peserta resmi, panitia juga memperkirakan ribuan peserta nonterdaftar akan bergabung di sepanjang rute perjalanan. Kehadiran peserta nonresmi ini dianggap sebagai bentuk antusiasme warga NU yang ingin turut merasakan suasana spiritual dan historis dalam kegiatan Napak Tilas.
Panitia menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa Napak Tilas bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan telah menjadi ruang ekspresi kecintaan warga NU terhadap sejarah dan perjuangan para muassis.
Tebuireng Jadi Titik Sentral Kegiatan
Kawasan Tebuireng dipilih sebagai titik sentral Napak Tilas karena memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Tebuireng dikenal sebagai tempat lahir dan berkembangnya gagasan besar NU yang digagas para ulama pendiri.
Napak Tilas menuju Tebuireng dimaknai sebagai simbol perjalanan spiritual dan intelektual, menelusuri jejak para dzurruyah dan muassis NU dalam membangun organisasi keagamaan yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan nilai kebangsaan.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga merenungi kembali nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian yang diwariskan para pendiri NU.
Koordinasi Pengamanan dan Kesehatan Diperkuat
Untuk memastikan kelancaran kegiatan, panitia lokal melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Polres Jombang, Dinas Perhubungan, dan Satuan Polisi Pamong Praja. Pengamanan juga didukung oleh Banser, Pagar Nusa, serta Lembaga Kesehatan NU.
Sejumlah pos kesehatan dan ambulans disiagakan di sepanjang rute Napak Tilas sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi darurat. Panitia menekankan bahwa aspek keselamatan peserta menjadi prioritas utama, mengingat jumlah peserta yang besar dan rute perjalanan yang cukup panjang.
Kolaborasi lintas unsur ini diharapkan mampu menciptakan suasana kegiatan yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh peserta maupun masyarakat sekitar.
Lalu Lintas Tetap Berjalan Normal
Terkait pengaturan lalu lintas, panitia memastikan tidak akan dilakukan penutupan jalan secara total. Penggunaan badan jalan hanya dilakukan sebagian dan akan dikawal secara ketat oleh Banser dan petugas terkait.
Langkah ini diambil agar kegiatan Napak Tilas tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan lainnya. Panitia menegaskan bahwa kepentingan publik tetap menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan kegiatan.
Pendekatan ini dinilai sebagai bentuk komitmen panitia untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan kegiatan keagamaan dan kelancaran aktivitas sosial masyarakat.
Menanamkan Nilai Sejarah dan Persatuan
Menurut KH Haris Munawir, Napak Tilas Dzurruyah pendiri NU bukan sekadar kegiatan mengenang masa lalu, melainkan juga sarana edukasi sejarah bagi generasi muda NU. Melalui kegiatan ini, warga NU diharapkan semakin memahami jerih payah para muassis dalam mendirikan NU di tengah keterbatasan zaman.
Ia menambahkan bahwa Napak Tilas juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan, ukhuwah, dan khidmah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk menjaga peran NU sebagai penopang harmoni sosial dan keutuhan bangsa.
Napak Tilas sebagai Ruang Refleksi Warga NU
Kegiatan Napak Tilas Dzurruyah pendiri NU dipandang sebagai ruang refleksi kolektif bagi warga NU. Di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman, Napak Tilas mengingatkan kembali pada akar sejarah dan identitas NU sebagai organisasi keagamaan yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Dengan kesiapan panitia lokal dan dukungan berbagai pihak, kegiatan ini diharapkan dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Panitia berharap Napak Tilas tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi penguat kesadaran sejarah dan spiritualitas warga NU di seluruh Indonesia.
Baca Juga : Kemenhaj Pastikan Pelunasan Haji Khusus Tepat Waktu
Cek Juga Artikel Dari Platform : infowarkop

