Kecelakaan Konstruksi Picu Longsor di Jatinangor
Peristiwa longsor terjadi di kawasan proyek konstruksi yang berada di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kejadian tersebut dipastikan sebagai kecelakaan kerja yang berlangsung saat aktivitas pembangunan sedang berjalan. Longsor tiba-tiba menimbun area kerja dan menyeret material tanah dalam jumlah besar.
Insiden ini menimbulkan korban jiwa serta memicu operasi pencarian dan pertolongan skala besar. Tim SAR gabungan langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi dengan mempertimbangkan kondisi medan yang berisiko tinggi. Lokasi kejadian berada di wilayah dengan karakter tanah labil yang rawan longsor, terutama saat cuaca tidak menentu.
Enam Pekerja Tertimbun Material Longsor
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Bandung, Muhammad Adip, menjelaskan bahwa saat kejadian terdapat delapan pekerja yang tengah melakukan aktivitas konstruksi di lokasi proyek.
Dari jumlah tersebut, enam orang dilaporkan tertimbun material longsor. Tiga korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara tiga pekerja lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian. Dua pekerja yang berada di luar area terdampak langsung berhasil menyelamatkan diri.
Kondisi tanah yang runtuh secara tiba-tiba membuat sebagian besar pekerja tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar. Material longsor berupa tanah basah dan puing konstruksi menutup area kerja dengan ketebalan yang menyulitkan proses evakuasi.
Operasi SAR Mengedepankan Keselamatan Petugas
Proses pencarian dan evakuasi korban dilakukan dengan pendekatan berbasis keselamatan personel. Basarnas menegaskan bahwa seluruh operasi berada di bawah kendali komando SAR, sehingga setiap tindakan dilakukan setelah mempertimbangkan risiko longsor susulan.
Tim di lapangan bekerja secara bertahap menggunakan peralatan manual dan alat berat terbatas. Penggunaan alat berat dilakukan secara selektif untuk menghindari getaran yang berpotensi memicu runtuhan lanjutan.
Menurut Basarnas, apabila kondisi cuaca memburuk atau stabilitas tanah dinilai tidak aman, operasi dapat dihentikan sementara. Prinsip ini diterapkan demi mencegah jatuhnya korban tambahan dari kalangan petugas penyelamat.
Cuaca Mendung Hambat Proses Evakuasi
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi cuaca di wilayah Jatinangor cenderung mendung dan sempat diguyur hujan. Faktor cuaca ini menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian, karena meningkatkan risiko pergerakan tanah dan longsor susulan.
Tanah yang basah membuat material longsor menjadi lebih berat dan sulit dipindahkan. Selain itu, visibilitas di area proyek juga menurun, sehingga proses pencarian korban harus dilakukan dengan lebih hati-hati dan perlahan.
Tim SAR terus memantau perkembangan cuaca secara berkala. Koordinasi dilakukan agar operasi tetap berjalan efektif tanpa mengabaikan aspek keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Unsur Gabungan Dikerahkan di Lokasi Kejadian
Dalam penanganan longsor ini, berbagai unsur gabungan dilibatkan. Selain Basarnas, aparat dari Polres Sumedang, Komando Rayon Militer, pemerintah kecamatan, BPBD Sumedang, serta relawan dan warga sekitar turut membantu proses evakuasi.
Keterlibatan warga lokal dinilai sangat membantu, terutama dalam memberikan informasi awal mengenai kondisi lokasi dan membantu logistik di lapangan. Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan peralatan dan fasilitas kesehatan untuk kebutuhan darurat.
Sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam mempercepat pencarian korban, mengingat medan yang sulit dan risiko tinggi di area longsor.
Tiga Korban Masih Dalam Pencarian
Hingga saat ini, tiga pekerja masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun di bawah material longsor. Tim SAR memetakan area pencarian berdasarkan dugaan titik terakhir korban terlihat saat kejadian.
Pencarian dilakukan secara sistematis dengan membagi sektor dan melakukan penggalian bertahap. Setiap temuan material mencurigakan diperiksa dengan cermat untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
Basarnas memastikan bahwa proses pencarian akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan, selama kondisi lapangan memungkinkan.
Sorotan terhadap Keselamatan Kerja Konstruksi
Insiden longsor ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan kerja pada proyek konstruksi. Proyek yang berada di wilayah dengan karakter tanah labil memerlukan kajian geoteknik yang mendalam serta mitigasi risiko yang ketat.
Pengawasan terhadap stabilitas lereng, sistem drainase, dan prosedur kerja dinilai menjadi faktor krusial dalam mencegah kecelakaan serupa. Selain itu, kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem juga harus menjadi bagian dari perencanaan proyek.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan tidak boleh dikompromikan, terutama dalam proyek konstruksi yang melibatkan banyak tenaga kerja.
Perlu Evaluasi Menyeluruh Pasca Kejadian
Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek konstruksi tersebut. Evaluasi mencakup kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja, kelayakan lokasi pembangunan, serta prosedur mitigasi bencana.
Langkah ini penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, terutama di wilayah Jawa Barat yang memiliki banyak daerah rawan longsor. Edukasi keselamatan bagi pekerja dan pengawasan rutin di lapangan juga dinilai perlu diperkuat.
Duka dan Harapan Proses Evakuasi Tuntas
Peristiwa longsor di Jatinangor meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar. Di tengah suasana duka, harapan besar tertuju pada tim SAR agar proses pencarian dapat segera menuntaskan evakuasi seluruh korban.
Basarnas dan unsur gabungan menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan operasi dengan profesional dan penuh kehati-hatian. Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan seluruh korban dapat ditemukan dan proses penanganan berjalan hingga tuntas.
Baca Juga : Panitia Lokal Siap Sambut Napak Tilas Dzurruyah NU
Cek Juga Artikel Dari Platform : kalbarnews

