georgegordonfirstnation.com Semangat untuk tetap bersekolah terlihat kuat pada anak-anak di kawasan Batu Busuk, Padang, Sumatera Barat. Sejak bencana banjir bandang melanda wilayah mereka, akses jalan utama menuju kampung masih terputus. Kondisi ini memaksa para siswa menempuh jalur perbukitan yang terjal dan licin setiap hari demi bisa sampai ke sekolah.
Perjalanan yang sebelumnya mudah kini berubah menjadi tantangan berat. Anak-anak harus berjalan kaki melewati tanjakan dan turunan curam, menyusuri jalan setapak berlumpur yang rawan tergelincir. Bagi mereka, sekolah bukan hanya soal belajar, tetapi juga perjuangan fisik dan mental yang menguji ketahanan sejak pagi hari.
Akses Jalan Utama Masih Terputus
Putusnya akses jalan utama menjadi persoalan utama yang dihadapi warga Batu Busuk. Hingga kini, jalur tersebut belum dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki secara normal. Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi siswa selain menggunakan jalur alternatif melalui perbukitan.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari masyarakat. Distribusi logistik menjadi sulit, aktivitas ekonomi terhambat, dan anak-anak harus menyesuaikan rutinitas belajar mereka dengan situasi yang jauh dari ideal.
Jalur Perbukitan yang Berbahaya
Jalur yang dilalui para siswa bukanlah jalan yang aman. Medannya terjal, sempit, dan licin, terutama setelah hujan turun. Di beberapa titik, tanah yang labil menambah risiko longsor kecil. Anak-anak harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset atau terjatuh.
Kondisi ini tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan. Setiap langkah membutuhkan konsentrasi penuh. Bagi siswa yang masih berusia belia, perjalanan ini menjadi tantangan besar yang seharusnya tidak mereka hadapi dalam kondisi normal.
Tidak Ada Jalan Alternatif Lain
Ketiadaan jalan alternatif membuat situasi semakin sulit. Warga menyebut bahwa jalur perbukitan menjadi satu-satunya akses yang dapat dilalui. Tidak adanya pilihan lain memaksa masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Orang tua pun diliputi kekhawatiran setiap kali anak mereka berangkat ke sekolah. Meski rasa cemas selalu ada, pendidikan tetap dianggap sebagai hal yang tidak boleh terhenti. Karena itu, anak-anak didorong untuk tetap bersekolah meski harus menempuh perjalanan berisiko.
Data Warga Terdampak Bencana
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah, puluhan kepala keluarga di Batu Busuk terdampak langsung akibat terputusnya akses jalan utama. Ratusan jiwa harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari mereka dengan kondisi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial. Pendidikan anak-anak menjadi salah satu sektor yang paling merasakan konsekuensi dari lambatnya pemulihan infrastruktur.
Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan
Di balik segala keterbatasan, semangat belajar anak-anak Batu Busuk patut diapresiasi. Meski harus berjalan jauh dan melelahkan, mereka tetap berusaha hadir di sekolah. Tekad ini mencerminkan besarnya keinginan untuk meraih pendidikan yang lebih baik di masa depan.
Para guru dan pihak sekolah juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi siswa. Mereka memahami tantangan yang dihadapi murid-muridnya dan berupaya memberikan dukungan moral agar semangat belajar tidak padam.
Dampak Psikologis dan Fisik
Perjalanan yang berat setiap hari tentu berdampak pada kondisi fisik anak-anak. Kelelahan sebelum memulai pelajaran menjadi hal yang tak terhindarkan. Selain itu, tekanan psikologis akibat rasa takut dan cemas juga berpotensi memengaruhi konsentrasi belajar.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan kesejahteraan mental dan fisik masyarakat, khususnya anak-anak.
Harapan Warga pada Pemulihan Jalan
Warga Batu Busuk berharap proses pemulihan akses jalan dapat dilakukan lebih cepat. Jalan utama yang kembali normal akan sangat membantu mengembalikan aktivitas masyarakat, termasuk kelancaran pendidikan anak-anak.
Masyarakat menilai bahwa perbaikan akses jalan merupakan kebutuhan mendesak. Dengan terbukanya kembali jalur utama, anak-anak tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi bersekolah.
Pendidikan Tidak Boleh Terhenti
Kisah perjuangan siswa di Batu Busuk menjadi pengingat bahwa pendidikan sering kali menjadi sektor yang paling terdampak saat bencana terjadi. Namun, semangat anak-anak Padang untuk tetap bersekolah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka.
Warga berharap perhatian lebih dari berbagai pihak agar pemulihan infrastruktur dapat dipercepat. Dengan akses yang kembali normal, anak-anak bisa kembali menikmati perjalanan ke sekolah yang aman dan layak, tanpa harus melewati jalan terjal yang penuh risiko.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritabumi.web.id
