Liburan kerap dipandang sekadar jeda dari rutinitas sekolah. Namun bagi anak-anak, masa libur memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar waktu tanpa pelajaran. Psikolog menegaskan bahwa liburan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak, terutama setelah mereka menjalani aktivitas akademik yang padat dan menuntut sepanjang tahun.
Psikolog anak Nur Ainy Fardana, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa selama masa sekolah, anak-anak menghabiskan banyak energi untuk memenuhi tuntutan kognitif, fisik, dan emosional. Rutinitas tersebut, jika berlangsung terus-menerus tanpa jeda yang sehat, berpotensi menimbulkan kelelahan mental maupun emosional.
“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelas psikolog yang akrab disapa Neny.
Liburan sebagai Proses Pemulihan, Bukan Sekadar Hiburan
Menurut Neny, liburan bukan hanya soal bersenang-senang atau bepergian ke tempat wisata. Lebih dari itu, liburan berfungsi sebagai ruang pemulihan psikologis. Anak-anak diberi kesempatan untuk keluar dari tekanan target nilai, jadwal padat, dan tuntutan performa akademik.
Pada masa libur, anak memiliki waktu untuk bernapas secara emosional. Mereka dapat mengenali kembali minat, rasa ingin tahu, serta potensi diri yang mungkin terpinggirkan selama masa sekolah. Inilah yang membuat liburan berperan penting dalam menjaga kesehatan mental jangka panjang.
Tanpa jeda yang cukup, anak berisiko mengalami kejenuhan belajar, penurunan motivasi, hingga stres. Dalam beberapa kasus, tekanan yang berkepanjangan bahkan dapat memicu kecemasan dan masalah emosi yang tidak selalu tampak di permukaan.
Tidak Harus Mahal, yang Penting Bermakna
Salah satu anggapan keliru yang masih banyak ditemui adalah liburan harus identik dengan perjalanan jauh dan biaya besar. Neny menegaskan bahwa pengalaman liburan yang bermanfaat tidak selalu bergantung pada faktor materi.
Orang tua dapat merancang aktivitas sederhana di rumah yang tetap memberi pengalaman baru bagi anak. Kuncinya adalah menghadirkan variasi dari rutinitas harian sekolah.
“Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orang tuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana. Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat,” ujarnya.
Kegiatan seperti memasak bersama, berkebun, membuat kerajinan, membaca buku favorit, atau sekadar bermain tanpa batas waktu yang kaku sudah cukup untuk memberi efek positif bagi anak.
Ruang Kebersamaan Keluarga yang Sering Terlewat
Liburan juga menjadi momentum penting untuk mempererat relasi antara anak dan keluarga. Di tengah kesibukan orang tua dan tuntutan sekolah, interaksi berkualitas sering kali menjadi hal yang langka.
Masa libur memberi kesempatan bagi orang tua untuk hadir secara lebih utuh, mendengarkan cerita anak, dan memahami dunia mereka. Kedekatan emosional ini berperan besar dalam membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak.
Neny menekankan bahwa kebersamaan yang hangat jauh lebih berdampak dibandingkan aktivitas liburan yang megah namun minim interaksi.
Bebas dari Target dan Tuntutan
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah cara orang tua membingkai aktivitas liburan. Menurut Neny, liburan sebaiknya tidak diubah menjadi rangkaian target baru yang justru menambah tekanan.
Liburan yang dipenuhi jadwal ketat, kursus tambahan, atau tuntutan pencapaian tertentu berpotensi menghilangkan esensi pemulihan itu sendiri. Anak tetap membutuhkan ruang untuk bermain, berimajinasi, dan mengekspresikan diri secara bebas.
“Masa libur harus menjadi ruang bermain dan berekspresi. Anak perlu kesempatan untuk mengenali kepribadiannya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat,” jelasnya.
Peran Orang Tua: Mendampingi, Bukan Mengendalikan
Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, peran orang tua sangat krusial dalam memastikan liburan benar-benar memberi manfaat. Pendampingan yang ideal bukan berarti mengatur secara berlebihan, melainkan memberi ruang sambil tetap hadir sebagai pengarah.
Orang tua disarankan untuk melibatkan anak dalam merencanakan kegiatan liburan. Bertanya tentang apa yang ingin dilakukan anak dapat membantu mereka merasa dihargai dan dipercaya.
“Orangtua bisa bertanya apa yang ingin anak lakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” tambah Neny.
Waspadai Aktivitas Negatif Selama Libur
Meski liburan memberi kebebasan lebih, Neny mengingatkan bahwa pengawasan tetap diperlukan. Waktu luang yang panjang tanpa pendampingan berpotensi membuat anak terpapar aktivitas atau informasi yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Paparan gawai berlebihan, konten digital yang tidak ramah anak, atau pergaulan yang kurang sehat dapat berdampak pada kesehatan mental dan perilaku anak. Karena itu, orang tua perlu tetap memantau tanpa menciptakan suasana yang mengekang.
“Orang tua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya, baik fisik maupun mental,” pungkasnya.
Liburan sebagai Investasi Jangka Panjang
Pada akhirnya, liburan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan perkembangan anak. Waktu istirahat yang berkualitas membantu anak kembali ke sekolah dengan kondisi mental yang lebih segar, motivasi yang lebih baik, serta kesiapan emosi yang lebih stabil.
Dengan memahami makna liburan secara lebih utuh, orang tua dapat menjadikannya sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan fisik dan mental anak. Bukan tentang ke mana anak pergi, tetapi tentang pengalaman, kebersamaan, dan ruang aman yang mereka rasakan selama masa libur.
Baca Juga : Arus Balik Nataru Landai, Logistik Tetap Jadi Prioritas
Cek Juga Artikel Dari Platform : pontianaknews

